oleh

Banyak Orang Jual Rumah saat Pandemi, tapi Harganya Ditawar Hancur

Jakarta, korankompas.com – Harga properti hancur. Selama masa pandemi COVID-19 agen properti juga mengalami tekanan. Hal ini karena penjualan terbilang seret karena daya beli dan permintaan masyarakat di bidang properti semakin menurun.
Salah satunya dialami oleh agen properti Imam Sofari yang mengalami perlambatan penjualan.

Sprei 50 K, salah satu produk Weni Nubi Shop paling laris
Sprei 65 rb an

“Pandemi berasa banget ya, sekarang demand-nya sedikit tapi stoknya masih banyak. Kendalanya ya itu, kalaupun ada yang cari mereka mau harga yang di bawah pasaran, biasanya mereka investor mau beli rumah untuk dijual suatu saat nanti,” kata dia saat berbincang dengan wartawan, Kamis (8/7/2021)
Imam mengungkapkan untuk rumah-rumah besar sebelum pandemi butuh waktu minimal tiga bulan untuk menjual 1 unit rumah.

Pandemi membuat proses penjualannya sangat melambat. Apalagi banyaknya investor yang mencari harga miring atau penawaran tukar tambah rumah.
Kemudian untuk di rumah-rumah yang berada di kawasan elit memang tak bisa diprediksi. Namun ada saja rumah yang akan dijual.

“Sebenarnya ada saja penjualan tapi tidak banyak. Ada calon pembeli yang selalu minta di bawah harga NJOP,” tambah dia. (uha)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed